MENGEJAR RESTU, ATAU MENGEJAR TAYANG?

Dec 13, 2025 | 0 comments

Tema yang Tidak Asing

Tema poligami tampaknya masih sangat “seksi” bagi para penggemar film keluarga bernuansa religi di tanah air. Salah satu buktinya adalah kehadiran film berjudul “Mengejar Restu” yang dibintangi oleh pasangan Dhini Aminarti dan Dimas Seto serta Arie Untung dan Fenita Arie ini.

Berkisah tentang seorang suami bernama Faiz (Dimas Seto) yang tidak bisa memiliki keturunan kembali setelah sang istri, Dania (Dhini Aminarti) harus menjalani operasi pengangkatan rahim paska melahirkan anak pertama dan satu-satunya yang berkelamin perempuan. Konflik benar-benar bermula saat Faiz yang dipercaya oleh sang ayah, KH. Abdullah (Hengki Tornado) untuk meneruskan pesantren, dipaksa mencari jalan keluar agar bisa memiliki keturunan lelaki demi memimpin pesantren di hari nanti. Hal yang tentu tak bisa diberikan oleh Dania.

Dan akhirnya Faiz dipaksa untuk menikah lagi dengan seorang janda beranak lelaki, Bella (Citra Kirana). Namun orang tua Dania, ibu Bella dan anak perempuan mereka, Arumi (Anantya Kirana), tidak menyetujuinya.

Sinematografi dan Tata Suara yang Baik

Film yang disutradarai oleh Puadin Redi ini, memiliki kualitas sinematografi dan tata suara yang sangat bagus. Gambar yang jernih, pergerakan kamera yang halus, grading warna yang sangat mendukung suasana, serta framing dan angle yang estetik, membuat visualnya sangat nyaman untuk ditonton. Meski ada beberapa keputusan sinematik yang kurang dieksekusi dengan cermat, seperti dolly track-in yang sedikit monoton pada adegan-adegan yang membutuhkan penekanan serta kepadatan gambar.

Dari segi audio, tata suaranya sangat jernih ditambah pemilihan lagu serta scoring yang tepat, menjadikan film ini berhasil membuat ‘baper’ para penonton.

Penataan musik pada bagian klimaks adalah puncak dari kedigdayaan tata suara di film ini. Membuat perpaduan sempurna bersama pengadeganan yang sinematik dan kualitas akting yang memukau.

Skenario Kurang Matang

Namun film ini juga punya banyak catatan, terutama dari segi skenario. Setidaknya ada dua hal paling mengganggu di film ini, yaitu dialog yang agak kaku dan plot-pace yang terlalu cepat. Hal ini tentu sangat mengejutkan karena skenarionya digarap oleh penulis sekaliber Titien Wattimena yang telah menulis sejumlah film papan atas di industri perfilman tanah air.

Dialog-dialog yang dibangun dalam film berdurasi 1 jam 47 menit ini, sebagiannya terkesan agak kaku dan kurang realistis. Hal ini membuat beberapa akting dari aktor dan aktrisnya menjadi kurang alami. Beruntung emosi terbantu dengan scoring dan akting dari Dhini Aminarti yang perlahan kembali ke performa terbaiknya.

Kredit juga harus diberikan kepada Arie Untung yang berhasil mencairkan suasana dalam film ini dengan akting jenakanya. Ditambah chemistry dengan sang istri yang semakin menguatkan fungsi dimensional dalam naskah. Improvisasi akting dari Arie Untung mampu membuat adegan-adegan komedi tidak lagi terasa terlalu garing.

Pace atau kecepatan perpindahan plot antar babaknya juga terkesan terburu-buru sehingga berpengaruh pada perkembangan dan kedalaman karakter. Semua perubahan terkesan dipaksa instan. Andai naskah mau lebih bersabar dalam membangun kedalaman karakter dan chemistry antar-pemainnya, tentu penonton akan merasakan pengalaman emosional yang lebih menyentuh dan mengaduk-aduk perasaan. Mungkin seharusnya film ini bisa berdurasi hampir 3 jam untuk bisa memenuhi semua kebutuhan restu.

Keputusan Dania yang ingin Faiz segera menikahi Bella, padahal ia adalah istri pertamanya, memang membuat sosoknya bak bidadari berhati emas. Tapi kurang dekat secara psikologis dengan realita yang ada. Andai prosesnya bisa lebih bersabar seperti pada film semisal Kuch-Kuch Hota Hai yang penerimaan emosionalnya dibuat bertahap selama bertahun-tahun melalui media surat wasiat, tentu kelapangan dada Dania akan semakin mengharukan di ending.

Pemicu konflik yang berasal dari KH. Abdullah, sebenarnya tidak benar-benar dipaksakan. Hanya saja set-upnya kurang smooth sehingga terkesan kurang natural.

Set-up lain yang cukup dipaksakan adalah ketika Ahmad, anak lelaki Bella dilarikan ke Rumah Sakit. Ada kejanggalan yang tidak realistis ketika karakter Faiz dan Dania tiba-tiba masuk tanpa izin atau ketuk ke rumah Bella demi membawa Ahmad ke Rumah Sakit. Padahal Bella sendirian pun masih mampu mengatasi masalah seperti itu. Ditambah lagi kehadiran mantan suaminya yang digambarkan klise dan mudah ditebak. Alangkah lebih baik jika kehadirannya dibuat lebih simpatik namun dikasih twist menjelang akhir sehingga eskalasi konflik terasa lebih dramatis.

Overall, film ini sebenarnya sudah digarap sangat baik dan pemilihan cast juga sudah bagus. Hanya skenarionya yang terasa belum cukup matang untuk diproduksi.

Film ini telah tayang di bioskop-bioskop tanah air sejak 11 Desember 2025 ini. Mudah-mudahan film ini bisa jadi sajian penghibur bagi pecinta drama religi bertemakan keluarga dan cinta segitiga. Segera saksikan keseruannya di bioskop kesayangan Anda!

Ditulis oleh Muhammad Valdy Nur Fattah untuk MataSinema Indonesia

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MataSinema Indonesia

#supportsinemaindonesia

Whatsapp kami:

Sosial Media Kami

Alamat

Komplek Infinia Park B069

Jl. Dr. Saharjo NO.45 Manggarai - Jakarta Selatan.

Email

matasinema.official@gmail.com

sekretaris.msi@matasinema.or.id

Telepon

+62 0811-1505-177