
Apa yang mempertemukan Rangga dan Cinta? Yup puisi. Apakah puisi masih relate dengan remaja saat ini. Hmm… Saya pribadi kok agak meragukannya ya.
Bisa jadi inilah mungkin yang mendasari mengapa Mira Lesmana dan Riri Riza memutuskan untuk tetap mengambil setting di early 2000 pada Film Rangga dan Cinta ini, persis sama dengan film AADC pertama yang lahir di Tahun 2002.
Apa benar puisi sudah begitu tidak relate dengan kondisi remaja saat ini di 2025? Ah, ini butuh penelitian dan pengkajian yang panjang dan mendalam. Sebab saya yakin mesti mungkin sudah tidak populer, puisi masih mendapatkan tempat di hati sebagian remaja kita.
Universe Musikal Rangga dan Cinta
Bagaimana sosok Rangga dan Cinta bisa jago bernyanyi juga memainkan alat musik? Ini sungguh merupakan semesta yang berbeda dengan film AADC pertama bukan? Hal inilah salah satu yang membuat Mira Lesmana dan Riri Riza ekstra kerja keras dalam proses pencarian pemeran dalam film ini.
Sejak masa-masa hunting casting Mira Lesmana dan Riri Riza tampak sangat serius. Mereka benar-benar tidak boleh salah dalam memilih pemeran Rangga, Cinta, dan geng Cinta yang sudah terlanjur begitu ikonik dan melekat di hati masyarakat pecinta Film Indonesia.
Terpilihnya El Putra Sarira sebagai Rangga dan Leya Princy sebagai Cinta merupakan buah dari hasil pencarian yang panjang dan tidak sederhana. Banyak pertimbangan yang dilakukan, tentu saja selain kemampuan akting sebagai pertimbangan utama, mereka juga dituntut untuk juga memiliki kemampuan musikalitas, tidak hanya menyanyi, tapi whole package sebagai sosok penampil yang diharapkan bisa menarik sesuai dengan karakter masing-masing. Benar, karena Rangga dan Cinta memang sejak awal telah dinisbatkan sebagai sebuah film musikal.
Selain El dan Leya terdapat juga deretan bintang-bintang baru yang akan turut meramaikan jagat universe Rangga dan Cinta, seperti Rafly Altama (Mamet), Daniella Tumiwa (Karmen), Katyana Mawira (Milly), Kyandra Sembel (Maura), Jasmine Nadya (Alya), dan Rafi Sudirman (Borne).

Sama tapi berbeda
Menyaksikan Rangga dan Cinta, buat kita yang sudah menikmati versi 2002, akan langsung paham jalan ceritanya, bahkan ingat sebagian dialognya yang memang super memorable dan kembali ditampilkan di sini.
Cerita memang sama, tapi cara penyajiannya berbeda. Seperti menikmati makanan yang kita sukai tapi dengan plating yang berbeda. Rasanya tetap sama, tapi lebih segar dan tetap enak untuk dinikmati.
Saya merasakan walaupun gaya bicara Leya benar-benar mirip dengan Dian Sastro serta warna suara El Putra yang sangat mirip dengan Nicholas Saputra, tapi sosok Rangga dan Cinta di film ini memiliki karakter yang berbeda dengan sebelumnya.
Cinta di sini terasa lebih manis walaupun tetap ekspresif dan lugas. Bagaimana Leya menunjukkan Bahasa tubuh “suka” kepada Rangga dengan lebih ekspresif dan terang-terangan. Hal ini sepertinya berbeda dengan Cinta versi Dian Sastro yang terlihat lebih denial akan perasaannya dan gengsi untuk menunjukkannya.
Begitu pula dengan Rangga, kendati tetap terkesan dingin dan introvert tapi El Putra menghadirkan sosok Rangga yang sedikit berbeda dibandingkan versi Nicholas Saputra, gaya bicara dan cara berekspresi terkesan lebih mencerminkan remaja saat ini, sehingga terasa lebih fresh.
Geng Cinta, Borne, dan Mamet juga demikian. Mereka hadir dengan gaya remaja sekarang namun dengan benang merah karakter yang sama dengan AADC pertama. Bonding di antara personel geng Cinta terasa enjoyable.

Film Musikal
Film dibuka dengan “Kubahagia”-nya Melly Goeslaw yang dinyanyikan oleh sekelompok anak-anak SMA sambil menari dengan full energy dan semangat, berhasil memproklamirkan bahwa ini adalah sebuah film musikal. Di akhir adegan film ini juga ditutup dengan “Demikianlah” yang juga dengan sangat energik dinyanyikan dan ditarikan oleh kelompok anak SMA.
Bukan seperti The Greatest Showman atau La La Land, Rangga dan Cinta sekalipun merupakan film musikal tapi berbeda dengan kedua film tersebut. Rangga dan Cinta lebih mengedepankan vokal asli dari pemain apa adanya ketika bernyanyi, tanpa filtering dan editing yang berlebihan agar terdengar sempurna.
Memang terkadang terdengar agak pitchy di beberapa bagian lagu, tapi menurut saya justru ini malah menjadikannya lebih nge-blend dengan adegan yang ditampilkan.
Suara Leya yang agak “centil” dan manja mampu menghidupkan karakter Cinta yang lebih ceria, baik ketika berdialog biasa maupun ketika bernyanyi. Lagu “Ingin Mencintai dan Dicintai” karya Melly Goeslaw sukses dilahirkan ulang dengan lebih segar dan ceria dengan karakter vokal Leya serta aransemen baru.
Demikian pula dengan vokal geng Cinta atau juga Borne, semua mengalir dan dapat dinikmati dengan ringan sesuai dengan karakter masing-masing.
Satu yang cukup mengejutkan adalah kemampuan vokal El Putra. Semoga tidak berlebihan jika saya bisa mengatakan bahwa satu bioskop seperti terkesiap ketika mendengar suara El Putra pertama kalinya ketika menyanyikan lagu “Tentang Seseorang”. Apalagi saat itu ia menyanyikannya sambil bermain piano. Sepertinya ini menjadikan sosok El Putra mendadak mendapatkan spotlight yang luar biasa di film ini. Hal ini juga sekaligus menjawab keraguan sebagian orang akan kemampuan El dalam memerankan sosok Rangga yang begitu ikonik. Menurut saya ini adalah adegan terbaik dalam film ini dan El Putra telah berhasil sukses merebut hati penonton.
Suara El yang dalam dan lembut ini kembali diperkuat dalam lagu “Suara Hati Seorang Kekasih”. Kali ini dia berduet dengan Leya yang mampu mengimbangi suara El dengan suara polos dan manjanya.

Daya bunuh rangkaian lagu garapan melly dan Anto Hoed masih sangat tinggi. Lagu-lagu yang sama di film AADC ditampilkan kembali dengan aransemen yang lebih segar dan kekinian. Semua berhasil membangkitkan rasa nostalgia para penonton film AADC yang bisa jadi adalah sasaran utama penonton film ini. Aransemen yang baru diharapkan lebih bisa diterima dengan telinga remaja saat ini.
Selain lagu-lagu lama ada juga beberapa lagu baru yang hadir di film ini dan sangat mendukung setiap adegan yang ditayangkan. Semua terasa pas.
Setting Early 2000an
Sebuah kerja keras yang luar biasa untuk menampilkan kembali Metro Mini, Bajaj, riuhnya Pasar Kwitang dan settingan lain di awal tahun 2000an. Saya cukup mengapresiasi dengan hasil tim Produksi film ini yang menurut saya berhasil menghadirkan kembali vibe tahun 2000an awal. Good job Miles.
So,
Apa pun preferensi kamu menonton Rangga dan Cinta ini sepertinya coba dirangkul oleh Miles dan Riri Riza. Sekalipun terkesan versi “rebirth” yang agak tanggung karena tidak mengambil setting tahun sekarang, namun film ini saya rasa akan mampu untuk merangkul kalangan utama yang disasar film ini, yaitu penonton AADC pertama yang ingin bernostalgia maupun remaja sekarang yang diharapkan bisa menikmati film fresh ini walaupun berlatar belakang tahun 2000an.
Memang banyak yang berpendapat: Andai saja film rebirth AADC ini mampu tampil dengan lebih all out fresh nya, tidak hanya dari jajaran pemain tapi juga settingnya di pindahkan ke saat-saat sekarang, pasti hasilnya jauh lebih OK lagi, serta lebih bisa merangkul anak muda jaman sekarang.
Nah, Kalau menurut kamu bagaimana?
Ditulis oleh : Iman Sulaiman untuk MataSinema Indonesia

0 Comments