oleh Muhammad Valdy Nur Fattah
Konsistensi, Dinamika Konflik Serta Kompromi Pasar
Film-film bertema religi, terutama Islam sudah menjadi salah satu komoditas ‘dagang’ mainstream di industri perfilman Indonesia saat ini. Tampilnya banyak judul bertemakan keislaman di layar lebar, membuktikan kepak sayap dakwah kini tak hanya mengudara di media-media tradisional seperti mimbar ceramah maupun buku-buku bacaan saja, namun sudah masuk ke dalam arus transformasi digital yang lebih masif. Medium film menjadi sebuah pilihan strategis bagi perkembangan dakwah Islam. Karena kekuatan storytelling itu bisa lebih menghenyakkan banyak orang, membuat mereka larut ke dalam dunia cerita dan tanpa sadar mengenyam apa yang ingin disampaikan. Penonton tidak merasa digurui namun bisa memetik hikmahnya melalui pengalaman visual yang disajikan di layar.
Namun sebagai sebuah industri yang sedari awal merupakan media hiburan sekaligus bisnis, maka para produser harus melakukan orkestrasi cerita sedemikian rupa agar tetap memiliki sisi menghibur sekaligus memiliki nilai positif. Namun di sinilah lubang yang mengancam konsistensi tujuan dan memengaruhi karakter serta plot dalam sebuah cerita itu sendiri.
Mungkin tujuan awalnya adalah dakwah, namun agar bisa ditonton oleh banyak kalangan maka penulis naskah atau sutradara melakukan adjustment tertentu yang bisa mengkompromikan antara aspek nilai dan aspek hiburan. Tak jarang, sikap kompromistis seperti ini kemudian melahirkan beberapa kekurangan dalam film.
Inilah yang saya amati terjadi dalam film besutan sutradara, Indra Gunawan yang berjudul, “Ahlan Singapore.” Jika melihat dari segi judulnya saja, sudah menarik karena langsung terasa adanya akulturasi dalam penetapan judul. Ahlan berasal dari Bahasa Arab (yang artinya selamat datang), sementara Singapore diambil dari Bahasa Inggris. Dua budaya yang cukup jauh berbeda. Meski film buatan orang Indonesia, namun judulnya tak ada satupun yang memakai Bahasa Indonesia. Padahal sangat mungkin jika penulisnya memberi judul “Ahlan Singapura,” atau “Selamat Datang Singapura,” agar terkesan lebih ‘pribumi.’ Tapi pemilihan judul seperti ini tentu punya alasan dan kita baru bisa meraba itu ketika sudah menonton film utuhnya atau setelah mengetahui konsep ceritanya.
Pilihan judul “Ahlan Singapore” ternyata bukan sekadar permainan bahasa. Ia menjadi petunjuk awal mengenai dunia yang hendak dibangun film ini: Sebuah pertemuan antara identitas Islam yang kuat dengan ruang sosial Singapura yang lebih plural dan permisif. Persoalannya, akulturasi yang seharusnya menjadi sumber konflik justru berubah menjadi kompromi terhadap karakter utama.
Ahlan Singapore tidak hanya menceritakan tentang seorang Muslimah asal Indonesia yang kemudian pergi ke Singapura demi melanjutkan studinya. Lebih dari itu film ini ingin menggambarkan bagaimana seseorang dengan latar belakang Muslimah yang taat, kemudian harus beradaptasi dengan budaya Singapura yang lebih bebas dan terbuka. Apalagi orang beragama Islam di negara tersebut masih tergolong minoritas.
Di antara yang terdampak akan adanya kompromi tadi adalah tokoh utamanya, Aisyah (diperankan oleh Rebecca Klopper) yang menjadi sedikit bias. Memang di satu sisi, Aisyah itu digambarkan sangat taat. Tidak sekedar karena karakter ini memakai hijab, tapi ia juga digambarkan taat agama, baik dari segi ibadahnya maupun dari segi muamalah atau interaksi sosialnya. Misalnya saja Aisyah itu, selain menjaga waktu-waktu salatnya, ia juga menjaga batas pergaulan antara dirinya dengan lelaki non-mahram (lelaki yang boleh menikah dengannya) ataupun ajnabi (pria asing). Saat Aisyah bertemu dengan karakter Ridwan (diperankan oleh Ibrahim Risyad) dan Liam (diperankan oleh Kiesha Alvaro), ia enggan untuk bersalaman langsung dan lebih memilih memberi gestur menangkupkan tangan di depan dada.
Akan tetapi film ini gagal menghadirkan konsistensi karakter Aisyah. Mungkin alasannya adalah demi dinamika serta eskalasi konflik, namun perubahan karakter tidak bisa diterima ketika ia kurang punya trigger yang layak untuk dipertanggungjawabkan secara rasional. Alih-alih menunjukkan pergulatan batin seorang Muslimah yang sedang beradaptasi dengan lingkungan baru, film ini justru mempersingkat proses itu sehingga kompromi budaya terasa sebagai inkonsistensi karakter.
Tidak ada alasan khusus kenapa kemudian Aisyah bisa dengan mudah jalan berdua dengan lelaki non-Muslim yang tak sengaja ditemuinya di supermarket dan secara kebetulan ditunjuk oleh kampus menjadi guide pribadinya selama di Singapura. Sementara ia sendiri punya kenalan atau teman perempuan yang sudah lebih dahulu tinggal di sana, yaitu Wina (diperankan oleh Kimberly Angela). Ini menjadikan character bias dalam diri Aisyah yang mana ia mudah berduaan dengan lelaki asing namun menolak untuk bersalaman.
Tingkat keimanan dan ketaatan seseorang memang bervariasi. Apalagi jika dihadapkan dengan suatu situasi yang mana ia tak sepenuhnya mampu pegang kendali. Tetapi kondisi Aisyah tidak demikian. Ia masih punya celah dan pilihan untuk bisa mengendalikan caranya berinteraksi.
Inkonsistensi sikap juga terlihat dari ibunya yang mana awalnya berpesan agar Aisyah fokus pada kuliahnya. Namun di sisi lain, ibunya mendorong Aisyah segera menikah dengan Ridwan yang tentu menjadi ironi dari tujuan awal.
Kembali ke niatan awal film yang (saya yakin) ditujukan untuk dakwah Islam secara ‘ramah’ ini, tetap sulit ditoleransi ketika karakter yang sudah dibangun sedemikian rupa islami, namun melakukan hal yang bertentangan dengan atribut yang seharusnya menempel pada karakternya.
Padahal penulis masih mungkin menggunakan pendekatan plot berbeda demi menyatukan hubungan cinta antara Aisyah dan Liam, tanpa harus mengorbankan sisi prinsipil sang karakter. Film Thailand (which is negara yang Muslimnya minoritas) berjudul Teacher’s Diary yang rilis tahun 2014 lalu, mampu menghadirkan kisah cinta yang bahkan kedua pasangannya tak pernah bertemu dan saling kenal secara langsung. Jadi sebenarnya, perbedaan prinsip dan budaya, tidak serta merta membuat dua insan kemudian saling menjauh atau mustahil bersatu. Justru cara menyatukannya, jika digarap secara matang, akan menghasilkan sesuatu yang berbeda, out of the box dan menjadi kesan yang tak mudah dilupakan penonton. Karena terbukti, dalam dunia film, bukan sekedar perbedaan karakter dan prinsip; bahkan perbedaan waktu dan dimensi pun tetap bisa menyatukan dua tokoh untuk saling bercinta.
Problematika Utama
Sekitar tahun 2023 lalu, saya sempat menghadiri Kongres Budaya Umat Islam Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah. Acara itu diselenggarakan oleh MUI dalam rangka merayakan hari lahirnya yang ke-48. Di forum, saya sempat mengatakan kepada para hadirin bahwa di antara lemahnya industri film religi kita adalah kurang adanya singkronisasi dan keseimbangan antara pembuat film dengan film dakwahnya itu sendiri.
Saya berpendapat bahwa kita belum memiliki banyak sineas yang ideal dalam menggarap proyek film islami. Di satu sisi banyak sineas yang bagus ketika membuat film, namun sangat lemah pemahamannya tentang ajaran Islam, sehingga berakibat pada film Islam yang muatannya kurang islami meski secara emosional filmnya mampu dinikmati sebagai suatu media hiburan. Namun di sisi lain, terdapat sineas yang kuat paham keislamannya, namun kurang terampil dalam mentransfer ide dan gagasannya ke dalam sebuah cerita dan film yang layak ditonton. Sehingga banyak film terkesan dipaksakan. Ada yang pengennya islami banget, namun terjebak pada plot-plot yang terlalu kaku dan jauh dari kesan realistis. Ada pula yang sudah sangat menyentuh secara emosional tapi abai terhadap adab-adab dan prinsip Islam yang semestinya dijunjung.
Akhirnya, tak jarang beberapa film nasional yang beredar luas di masyarakat, mampu menghibur tapi sepi dari nilai-nilai keagamaan dan moral sosial yang bisa diambil. Adapun atribut-atribut keagamaan (khususnya Islam) yang muncul di dalam adegan, seolah tak lebih hanya gimmick dan tempelan semata. Tak heran ada film horror berlatar belakang pesantren atau keluarga islami. Namun nilai-nilai murni dari ajaran islamnya malah dikorbankan demi menyenangkan mata dan emosi penonton belaka. Pada tahun 2024, MUI bahkan melakukan somasi pada film “Kiblat” karena judul dan poster film yang dinilai telah menodai kesakralan suatu ritual suci dalam Islam. Akibat dari semangat untuk membuat film dengan atribut keislaman namun malah mencederai nilai-nilai yang diagungkan dalam agama Islam itu sendiri.
Problematika inilah yang tampaknya sedang terjadi pada film, “Ahlan Singapore.”

0 Comments