oleh Muhammad Valdy Nur Fattah
MENDOBRAK PAKEM KUNO
Mungkin sudah terlalu lama penonton kita terpenjara dalam sebuah persepsi yang stereotip. Bahwa dunia yang digambarkan dalam sinema, hanya memiliki lapisan hitam-putih, jahat-baik, antagonis-protagonis. Penonton dibuat lupa adanya sifat multidimensional dalam setiap pribadi yang mana berarti jiwa manusia telah Tuhan beri potensi untuk bisa jahat dan bisa baik serta berada dalam bingkai keduanya sekaligus. Ada sikap abu-abu yang tak bisa dihilangkan sepenuhnya dalam diri seorang manusia biasa. Bahkan sosok paling bengis dan jahat seperti Fir’aun sekalipun masih punya rasa iba dan bisa berkompromi dengan perasaan sang istri, sehingga bayi Musa bisa berada dalam perlindungan kerajaan.
Namun keseragaman cara pandang yang demikian dalam sinema akhirnya didobrak oleh eksistensi karakter-karakter fiksi seperti Panji Tengkorak. Sebuah sosok ciptaan Hans Jaladara pada komik silat yang dirilis tahun 1968. Karakter yang di kalangan pecinta film Hollywood disebut sebagai Anti-Hero, sesosok pahlawan yang memiliki atribusi gelap, tidak ramah, tidak kenal ampun. Cukup bertolak belakang dengan kebanyakan pahlawan super lainnya.
Dalam adaptasi film animasi panjang karya Daryl Wilson di tahun 2025, Panji Tengkorak tak sekadar perwakilan tokoh Anti-Hero semata, namun ia juga muncul sebagai antitesis yang mengaduk ulang pemikiran masyarakat tentang kejujuran warna dalam merepresentasikan suatu nilai yang dianggap sakral. Ketika hitam tidak selalu berarti jahat dan ketika putih tak selalu mewakili kebaikan.
Panji dalam Panji Tengkorak dikisahkan sebagai pendekar yang terpaksa mengabdi pada gelapnya ilmu hitam demi bisa menuntaskan dendam setelah kehilangan sang istri tercinta, Murni. Bahkan di awal film, Panji sudah digambarkan sebagai sosok pendekar ilmu hitam yang tak punya belas kasih. Membantai banyak orang tak berdosa secara dingin tanpa empati. Akan tetapi pada akhirnya, penonton digiring untuk melihat lebih dalam sisi ‘putih’ yang justru dimiliki oleh Panji. Meski memiliki atribut ilmu hitam yang sesat, ia justru membawa nilai-nilai keluhuran jiwa lebih murni daripada tokoh lain seperti Lembugiri yang nampak seolah condong pada ilmu putih, padahal hatinya lebih terkotori oleh ambisi.
Bagi penonton yang belum terbiasa dengan pola naratif di luar stereotip umum seperti ini, mungkin akan merasa kurang nyaman ketika harus memutuskan berpihak pada karakter yang seharusnya berkepribadian simpatik, tetapi sosok itu malah tak punya hati.
Penonton memang disuguhkan bagaimana di awal film, Panji begitu kejam dan mengerikan. Sosok yang menghantui banyak orang. Sosok dengan riasan kegelapan yang sempurna. Akan tetapi, dengan membeberkan sudut pandang asli seorang Panji, maka penonton akan bisa menganggap apa yang dilakukannya adalah termasuk dari sisi manusiawi yang mudah rapuh diuji oleh kondisi. Penonton dipaksa memahami dan menoleransi apa yang dilakukan oleh Panji melalui proses penyamaan persepsi serta penanaman informasi yang berhasil dibangun sang sutradara dalam film ini.
Penonton mulai bisa menyadari bahwasannya ilmu hitam dan ilmu putih dalam Panji Tengkorak hanya sekadar kosmetika identitas yang belum tentu mencerminkan jati diri si penggunanya. Panji pun merefleksikan hal tersebut dengan dialog sederhana, “Pada akhirnya ilmu putih maupun ilmu hitam itu sama. Tujuannya hanya untuk menghabisi nyawa lawan!”
“Don’t judge a book by its cover,” adalah ungkapan yang pas menggambarkan sosok Panji Tengkorak. Di balik topeng tengkorak yang menyeramkan, ada wajah teduh dan tampan Panji. Di balik ilmu hitam yang ia kuasai, ada motivasi kebaikan yang jauh terpendam.
Daryl Wilson tak lupa juga untuk mengubah karakter suara Denny Sumargo yang menjadi Panji, saat masih belum terikat dengan perjanjian hitam dan sesudahnya. Menunjukkan dualisme karakter yang dimiliki Panji memang sudah dirancang secara matang. Kenapa saya katakana demikian?
Jika menelisik ke versi asli komiknya, maka sosok Panji bukanlah penganut ilmu hitam murni. Ia tetap menganut ilmu putih, namun terbakar dendam yang membuat sosoknya menjadi lebih kelam daripada sebelumnya. Sementara di versi animasi, Panji dibuat belajar ilmu hitam dari Nagamas demi menunaikan balas dendamnya. Gurunya tetap sama, namun dalam bingkai reintrepretasi keilmuan berbeda seraya mempertahankan motivasi utama.
MENERJEMAHKAN SOSOK ANTI-HERO DI KARAKTER PANJI
Dibandingkan dengan adaptasi Live-action di tahun 1971 yang lebih banyak berfokus pada dunia persilatan semata sebagai daya tariknya, Panji Tengkorak versi animasi lebih menonjolkan sisi Anti-Hero dari sosok Panji.
Kalo kita petakan, identitas gelap Panji lahir dari dendam sebagaimana Batman dan The Punisher. Sementara kemampuan self-healing atau menyembuhkan diri sendiri, mirip karakter Deadpool dan Wolverine. Serta kisah pertaubatannya sebagai mantan pembunuh berdarah dingin, mengingatkan kita akan sosok Kenshin si Battousai di serial anime Samurai-X.
Meski ada kemiripan, bukan berarti Panji dibuat berdasarkan tokoh-tokoh di atas. Jika tokoh-tokoh di atas umumnya dikaitkan dengan sebab-sebab khas fiksi ilmiah seperti hasil eksperimen, rekayasa genetik atau manusia yang mengalami mutasi DNA, Panji membawa sisi kelam rasa kearifan lokal yang lebih berbau mistis. Kemampuannya berasal dari ikatan sesat antara dirinya dengan ilmu hitam yang ia pelajari. Suatu anugerah yang di kemudian hari berubah menjadi kutukan bagi Panji. Kekuatan tak bisa mati, ternyata tak selamanya menghilangkan rasa takut dari seseorang. Panji menganggap keabadian jiwanya lebih menakutkan daripada kematian itu sendiri. Bagaimana tidak, jika akhirnya ia harus terus berada dalam kehilangan yang tak berujung. Hidup abadi tak membuat sang terkasih bisa kembali hidup menemani kekekalannya. Panji malah terus menderita dengan menyimpan tragedi masa lalu yang terus menghantui sepanjang waktu. Kematian malah dinilai sebagai pemutus penderitaan yang terus bergentayangan. Setidaknya, kematian bisa menjadi jembatan yang akan mempertemukannya lagi dengan sang istri.
Pertanyaannya kemudian, sejauh mana sosok Anti-Hero dalam film animasi Panji Tengkorak ini bisa menjadi medium yang tepat untuk mengatakan kepada dunia bahwa kehidupan ini tak sehitam-putih yang kita sangka?
Pemilihan jenis kekuatan yang diberikan dalam versi animasi ini, menguatkan premis bahwasannya: tidak selamanya yang dinilai tak indah dan tak menyenangkan itu buruk bagi kita, begitupun sebaliknya. Sehingga fokus penceritaan dalam mendobrak pakem yang terlalu hitam-putih itu dipertebal dengan kedalaman karakterisasi. Sehingga bobot yang ditimbang dalam menentukan baik dan buruknya sesuatu, punya dimensi penilaian lebih komprehensif. Tak lagi bergantung pada dikotomi istilah bahasa dan tampilan visual semata.
Pahlawan tak selamanya muncul dengan warna cerah dan terang, juga topeng yang indah lagi menawan. Kadangkala kepahlawanan muncul dari tempat yang jarang disorot oleh terangnya cahaya. Ia bisa jadi bersembunyi di balik kegelapan malam, dari kumuhnya pemukiman padat penduduk, muncul dengan tampilan yang menyeramkan, namun hadir sebagai pembawa keadilan dengan menerobos batas-batas penegakan hukum konvensional. Sosok yang anti-kemapanan, tidak dikenal dengan kelemahlembutan namun bisa menghadirkan rasa aman.
Sekali lagi, peran Anti-Hero dalam membuka realitas, menyadarkan kepada penonton bahwa tidak setiap hal yang baik itu bisa dicapai dengan cara yang ideal. Ada sosok yang mengesampingkan nilai-nilai moralitas demi mencapai keseimbangan serta keharmonisan hidup. Mereka mengorbankan nama baik mereka agar masyarakat tidak tersandera dalam cara berpikir statis yang kaku saat melihat sebuah nilai. Karena bagi sebagian manusia, dijunjungnya keadilan terkadang lebih mereka hargai daripada atribut yang melekat di tubuh para penegaknya.
Seorang Anti-Hero tidak membutuhkan panggung untuk menunjukkan jati diri yang sebenarnya. Tidak pula butuh dengan popularitas yang bisa melenakan dan menjebak ke jurang kebinasaan. Panji telah menjadi paradoks bagi kisah-kisah superhero lokal yang masih terjebak pada stereotip kuno dalam merepresentasikan kebaikan.
Semangat yang dihadirkan dalam film animasi Panji Tengkorak, membelalakkan mata penonton untuk bisa menyadari betapa naifnya mereka dalam memandang kondisi lahiriah dari sesuatu. Bukan nilainya yang salah, namun cara menilainya tidak menggunakan tolok ukur yang sepantasnya. Penonton kita terlalu lama dimanjakan dengan visual yang sejuk dipandang, dininabobokkan dengan protagonis yang tampil bak malaikat tanpa dosa. Mereka tidak sadar bahwa dunia ini begitu rumit, begitu berlapis dimensi, begitu keras, begitu kejam hingga sebagian kita seolah sudah kehilangan kewarasan demi mengembalikan tatanan hidup yang sudah dirampas darinya.
Pada puncak konflik, motivasi Guru Nagamas mempelajari ilmu hitam dan mengajarkan kepada Panji, menjadi bukti konkrit bahwa si pembuat film ini ingin menyampaikan tentang sebuah kestabilan dalam tatanan kehidupan nyata. Ketika salah satu elemen mulai dominan, maka harus ada entitas berlawanan sebagai pengimbang kekuatan. Dan sekali lagi, hal ini telah menggarisbawahi fungsi Panji Tengkorak yang membawa misi penyadaran kompleksitas melalui kerangka peran hitam dan putih.
ANIMASI SEBAGAI MEDIUM NEGOSIASI ANTARA KEBEBASAN BEREKSPRESI DAN JEMBATAN LINTAS GENERASI
Kisah Panji yang tayang di bulan Agustus tahun 2025 itu, memang lebih terkesan cocok digarap dalam medium animasi 2 dimensi. Setidaknya ada beberapa alasan yang bisa jadi bahan diskusi.
Pertama, animasi tidak punya limitasi terhadap cara berekspresi dibandingkan melalui medium film laga asli. Aktivitas brutal penuh darah yang dilakukan dalam semesta penceritaan bisa dengan leluasa dituangkan dalam goresan cat beragam warna. Sehingga penggambaran kejinya pembantaian hingga palet warna penanda aura keilmuan, terlihat jelas dalam bingkai visual. Warna hitam dan putih yang seharusnya mewakili simbol kejahatan dan kebaikan sebagaimana dibicarakan pada paragraf-paragraf sebelumnya, bisa memperlihatkan kontradiksi nilai yang tajam. Ketika si Hitam justru berada di garda terdepan membela kaum lemah sedang si Putih menjadi simbol keculasan dan kebiadaban yang mengorbankan jiwa-jiwa tak bersalah. Visualisasi aura putih melawan hitam, mempertegas bukan sekadar benturan fisik, namun juga ideologis yang tengah berkecamuk meski pada makna berkebalikan.
Kedua, animasi merupakan kompromi artistik demi menjangkau masa lalu dan masa kini. Melalui animasi, Falcon Pictures ingin menarik penonton lintas generasi. Panji Tengkorak berupaya menjadi perantara kultural yang coba mengawinkan elemen nostalgia pembaca komik klasik dengan preferensi visual para Milenial dan Gen-Z yang tumbuh bersama estetika anime modern. Para penggemar lama serial komik Panji Tengkorak merasa terhubung karena Panji tetap hadir melalui bentuk gambar tradisional yang pernah mereka kenal. Sementara generasi yang lahir di tahun 90-an dan 2000-an, akan lebih familiar dengan tampilan anime Jepang, sehingga tergolong masih cukup relevan dengan gaya animasi di karya Daryl Wilson. Ditambah lagi, dengan berlapisnya tingkat kekuatan dari para jagoan silat, penggambaran gaya animasi 2D dirasa paling pas dan melekat di benak penonton antar-generasi tersebut untuk memproyeksikan level kekuatan ke depan layar. Sebagaimana mereka sudah terbiasa dengannya melalui serial laga semacam Dragon Ball, One Piece, Naruto, Demon Slayer dan selainnya.
Ketiga, membuat animasi bisa menjadi langkah yang lebih efisien dan realistis dalam mewujudkan dunia Panji Tengkorak yang bukan saja penuh dengan efek-efek mengerikan; tetapi juga skala pertarungan yang cukup besar melibatkan banyak karakter pasukan, menjadikan hal ghaib dan mistis sebagai pertunjukan fantastis yang berpotensi menguras budget bila dipaksakan dengan format live-action. Kita tidak sedang bicara, mana yang paling murah, namun mana yang paling masuk akal dan terjangkau untuk dieksekusi. Panji Tengkorak yang menghadirkan adegan-adegan penuh aksi akrobatik dan kekuatan di luar nalar serta latar tempat jauh di masa kerajaan, membutuhkan efek yang sangat mahal apabila ingin digarap dengan aktor sungguhan. Pilihan animasi tidak lagi butuh pemakaian green screen, CGI, tata artistik rumit maupun stunt dan pemakaian kabel agar aktor terlihat ‘bisa terbang.’
Menggunakan medium animasi bukanlah keputusan spekulatif yang hanya meraba-raba potensi pasar secara sembarangan. Namun pertimbangan matang terhadap kebutuhan naratif serta filosofis yang terkandung di semesta penceritaannya. Meski film ini harus menghadapi realita raihan penonton yang tak sefantastis adegannya.
KESIMPULAN
Panji Tengkorak mungkin bukan jenis film yang disukai banyak penonton lokal dengan selera yang terlalu memuja kenyamanan dan menuntut hiburan ringan. Ia sedang mencoba memberi napas segar bagi industri perfilman nasional. Gagasan yang mengandung kontra-paradigma, bukan saja memicu kontroversi namun pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya rumit. Panji Tengkorak menjadi kritikan tersendiri bagi dunia perfilman kita yang masih memandang kebaikan dan keburukan dipisahkan oleh garis-garis yang tegas. Padahal realita membuktikan bahwa manusia itu selalu hidup di antara keduanya. Tak selamanya ia baik dan tak selamanya ia buruk. Ada orang yang memilih menjadi jahat dan tidak berperikemanusiaan justru karena terhimpit oleh kondisi yang sangat manusiawi.
Panji tidak hadir untuk menegaskan ilmu hitam itu lebih baik dari ilmu putih. Begitupun Lembugiri tidak berada dalam posisi sebagai duta ilmu putih dengan segala kegelapan motivasinya yang sudah dibutakan ambisi. Panji Tengkorak hanya ingin penonton secara kasat mata bertanya pada diri mereka sendiri bahwa apa yang mereka lihat sebagai suatu kebenaran benarkah tulus menyajikan kebaikan atau hanyalah kamuflase dari kegelapan yang belum menampakkan diri secara terang-terangan. Film ini mengajak penonton berpikir dan keluar dari stigma usang yang membelenggu persepsi kita dalam menilai baik dan buruknya sesuatu hanya dilihat dari representasi warna yang dikenakan. Karena moralitas terkadang tak benar-benar punya warna di dunia nyata. Tolok ukur sesempit itu membuat manusia menjadi kaku dalam menyikapi suatu tindakan, sebagaimana Nabi Musa selalu mengeluh akan tindakan Nabi Khidir yang dianggapnya tidak sesuai dengan nilai moralitas yang membersamainya selama ini.

0 Comments